
Assalamu'alaikum wr.Wb..
Kepemimpinan : apapun yang dikatakan seorang pemimpin harus dipatuhi (namun memiliki syarat)
Sami’na wa atha’na : “kami mendengar dan kami menta’ati”.
Seorang pemimpin memiliki kelebihan dibanding yang dipimpin. Ibarat pemimpin adalah seseorang yang berada di puncak bukit, yang dapat melihat musuh datang dari balik bukit.
Jihad yang sempurna adalah mengatakan dzalim kepada pemerintahan yang dzalim. Seorang Jundi (yang dipimpin) dapat mempertanyakan keputusan yang diambil olah seorang Qiyadah (pemimpin) karena beliau bukanlah seorang maksum (terbebas dari dosa)
QS AN-Nisa : 59
“Hai orang orang yang beriman, taatilah ALLah dan taatilah rasul-(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan rasul (sunnahnya), jika kamu benar benar beriman kepada Allah dihari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya”.
Menta’ati Allah, rasul, dan ulil amri namun ulil amri yang dimaksud disini adalah ulil amri yang menta’ati Allah dan rasul-Nya.
Teringat dengan kisah perang Uhud, ketika kataatan tidak dijalankan. Pasukan pemanah yang sibuk mengambil Ghannimah (harta rampasan) dan melupakan amanah yang diberikan Rasulullah untuk tetap berjaga, sehingga Khalid bin Walid mengetahui dan mencari strategi untuk mengalahkan pasukan pemanah sisa yang masih mentaati rasul.
Kapan seorang pemimpin harus ditaati??
Adalah Jika ia taqwa terhadap Allah, cerdas, amanah, tidak keras hati, dan tidak bengis.
Batas-Batas Ketaatan
1. Selama dijalankan Syari’at Allah
2. Jika pemimpin ini melakukan dakwah secara berkesinambungan (tidak seperti Ash-Shaff : 2)
3. Memperlakukan Jundinya sesuai dengan amanah yang diberikannya.
4. Pemimpin memiliki tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya
Seorang pemimpin tidak hanya cerdas dalam sebatas logika namun dia juga harus mempertimbangkan hal hal yang mengenai perasaan.
1. Memiliki tim yang baik dan kuat
2. Memimpin itu perlu teknik karena memimpin itu adalah sebuah seni
3. Dan tahu kapan seharunya bersikap tegas dan memahami setiap orang
Bagaimana dan apa yang harus dilakukan oleh seorang Qiyadah dan Jundi ketika diangkatnya seorang Qiyadah yang kualitas kepemimpinannya dianggap kurang?
Terpilihnya seorang Qiyadah bukan hanya sebatas dalam lembaga namun dalam suatu syuro’ (musyawarah) yang tanggung jawabnya besar untuk menjadikannya lebih baik. Dalam suatu organisasi tidak dibutuhkan seseorang yang benar benar perfect seperti superman dan ketika si superman itu keluar dari syari’at siapa yang akan mengingatkannya? Jadi yang sebenarnya dibutuhkan adalah SUPERTIM.
Qiyadah bertanggung jawab terhadap syuro’ , mentaati aturannya serta hasil syuro’ tersebut. Karena segala hal yang diambil berdasarkan Syuro’ Insya Allah tidak akan merugikan.
Maka harus ada kesinambungan antara Qiyadah dan Jundi Jundinya, saling memgawasi dan mengingatkan dalam suatu syuro’.
Ketika ada suatu organisasi dan seseorang yang ditunjuk menjadi Qiyadah, namun seseorang itu merasa tidak pantas, lalu bagaimana?
Semua pemimpin awalnya merasa tidak pantas, teringat dengan kisah Umar bin Khatab yang diangkat oleh Rasulullah untuk memimpin dalam menjalankan sebuah amanah. Seorang Umar menangis merasa tak sanggup menerima hal itu, padahal dia adalah seorang Umar yang sangat kuat dan terkenal dengan keperkasaannya . Namun Umar tetap menerima dan manjalankannya dengan penuh amanah. Maka majulah memimpin ketika memang dalam keadaan harus memimpin dan berusaha mencari supertim yang dapat menjadi tim yang baik.
Jangan mencari sebuah jabatan, karena hanya akan menjadi sebuah beban, namun apabila jabatan itu tidak dijalankan dan akan menjadi sebuah mudharat maka majulah memimpin hal itu dengan penuh rasa tanggung jawab karena jika tidak, sama saja dikatakan kita membiarkan mudharat berjalan begitu saja.
Wallahu ‘alam bishawab
Nurul Madiniyah
(dipetik dari Latihan Dasar Kepemimpinan Rohis 2008 SMA 81 JAKARTA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar